Salah satu perusahaan cryptocurrency paling
berharga di dunia Unicorn Circle telah memperoleh platform crowdfunding karena
berusaha memenuhi tujuannya untuk mengawasi “tokenization of everything.”
Circle Goldman-Backed Mengakuisisi Startup
Crowdfunding
Cryptocurrency unicorn dengan valuasi $ 3
miliar telah menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi SeedInvest, startup
crowdfunding ekuitas yang membantu bisnis kecil yang dipegang secara pribadi,
meningkatkan modal dari investor dan ritel individual. Berita itu pertama kali
dilaporkan oleh Bloomberg.
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan
publikasi, CEO Circle Jeremy Allaire mengatakan bahwa perusahaan yang didukung
Goldman Sachs mengincar investasi ini sebagai cara untuk mengatur sekuritas
crypto – sering disebut token keamanan – sementara juga mematuhi peraturan
Securities and Exchange Commission (SEC) tentang penawaran keamanan.
“Ini adalah perusahaan yang telah berada di
garis depan berkolaborasi dengan pemerintah untuk mencari tahu bagaimana
memungkinkan untuk berinovasi dalam cara orang meningkatkan modal,” kata
Allaire tentang SeedInvest. “Crypto sekuritas akan menjadi kategori utama baru
dari sekuritas yang pada akhirnya setiap bisnis akan mengadopsi, sama seperti
setiap bisnis memiliki situs web.”
“Bukan hanya ‘bagaimana kita membiarkan
perusahaan melakukan ICO?” Dia melanjutkan. “Itu bagaimana kita mendukung
tokenisasi segalanya?”
Menurut situs SeedInvest, lebih dari 150
startup telah menggunakan platform untuk mengumpulkan $ 115 juta dari lebih
dari 200.000 investor. Meskipun beberapa penawaran terbatas pada investor
terakreditasi, investor ritel dapat membeli saham di perusahaan lain dengan
investasi sekecil $ 200, yang menurut perusahaan 50 kali lebih rendah daripada
investasi startup yang khas.
Persyaratan kesepakatan itu tidak diungkapkan,
tetapi laporan Bloomberg menyatakan bahwa 30 karyawan SeedInvest akan pindah ke
kantor Circle di New York.
Ketika Circle mengakuisisi cryptocurrency
exchange Poloniex pada bulan Februari, Allaire dan rekan co-founder Sean
Neville mengatakan bahwa mereka membayangkan platform morphing menjadi sesuatu
yang jauh lebih kuat daripada pertukaran token masalah standar.
“Kami
membayangkan pasar terdistribusi multi-sisi yang kuat yang dapat meng-host
token yang mewakili semua nilai: barang fisik, penggalangan dana dan ekuitas,
real estate, produksi kreatif seperti karya seni, musik dan sastra, sewa
layanan dan penyewaan berbasis waktu, kredit, berjangka, dan banyak lagi,
”tulis mereka dalam sebuah pernyataan.
Sejak itu, Allaire mengatakan bahwa Circle
sedang mengejar pendaftaran SEC sebagai broker berlisensi dan tempat
perdagangan dan berharap suatu hari akan menerima lisensi perbankan federal.
Circle tidak sendirian dalam usahanya untuk
membawa token keamanan ke pasar massal. Platform crowdfunding Indiegogo telah
bermitra dengan broker-dealer untuk membuat platform token keamanan. Aset
pertama yang terdaftar di platform adalah token cryptocurrency yang mewakili
ekuitas di resor mewah di Aspen.
Mengenal Valuasi Startup dan Istilah “Unicorn”
Tak mudah menentukan valuasi, ada beberapa faktor yang dapat
menjadi indika
Semenjak makin banyak startup Indonesia yang berhasil mendapat
pendanaan dengan nilai yang sangat fantastis, istilah valuasi startup kencang
didiskusikan oleh masyarakat. Lalu sebenarnya apa itu valuasi dan bagaimana
cara melakukan kalkukasi untuk menentukan valuasi sebuah startup?
Singkatnya valuasi merupakan nilai dari suatu startup. Karena
umumnya startup itu masih tergolong semi-enterprise, biasanya nilai valuasinya
ditentukan berdasarkan peretujuan antara founder dengan investor. Tidak ada
perhitungan yang saklek untuk menentukan valuasi.
Umumnya investor memiliki benchmark internal
dan prosedur penghitungan valuasi, mulai dilihat dari kapabilitas
founder/co-founder, produk yang dipasarkan, traksi pengguna hingga potensi
produk tersebut ke depan.
Di sisi lain valuasi juga memerlukan pembuktian. Ketika ada yang
bertanya “berapa nilai perusahaan tertentu?”, jawabannya harus merefleksikan
komponen apa saja yang mampu dijadikan daftar dalam penentuan nilai tersebut.
Menariknya startup di Indonesia sendiri memiliki proses yang unik, jadi antara
satu dengan yang lainnya kadang memiliki pendekatan yang berbeda dalam
melakukan perhitungan valuasi. Jumlah modal yang ditanamkan, jumlah investor,
kekuatan produk dan kredibilitas founder terlibat besar di dalamnya.
Perhitungan valuasi paling mudah bisa dicontohkan dengan
perhitungan modal awal dan suntikan dana investor. Misal sebuah startup
memiliki nilai awal Rp 10 miliar, kemudian sebuah venture capital menambahkan
pendanaan Rp 10 miliar, berarti valuasi startup menjadi Rp 20 miliar dengan
kepemilikan saham 50% milik venture capital tersebut. Biasanya perhitungan ini
akan berjalan jika startup memang sudah mapan berdiri dan apa yang diproduksi
sudah jelas.
Namun pada praktiknya tak semudah itu untuk menghitung capaian
valuasi. Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan:
“Untuk menentukan nilai valuasi
dari sebuah startup sangat sulit sebenarnya. Dari sisi founder pasti merasa
yang mereka kerjakan itu harganya tinggi sekali. Sementara dari investor, kita
melihat kalau kita masuk di valuasi sekarang, di valuasi berapa kita bisa exit.
Jadi valuasi pada saat investasi itu ditentukan nilai tengah dari ekspektasi
investor dan founder.”
Willson menambahkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi
valuasi startup sendiri adalah growth rate, setidaknya
dengan persentase 30% MoM (Month-on-Month).
Perhitungan valuasi startup
Untuk menentukan nilai valuasi sendiri, satu startup dengan
startup lainnya memang memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Ada beberapa hal yang mungkin mempengaruhi
nilai valuasi startup. Pertama adalah nilai yang ditentukan oleh pasar (umumnya
diwakili oleh investor). Misalnya jika investor mengatakan bahwa startup X
bernilai $5 juta, maka itulah nilai yang layak. Namun kadang founder merasa
nilainya harus lebih tinggi, misalnya ternyata ada aset atau kekuatan dari
talenta bisnis yang dihitung bernilai lebih, namun jika startup tidak bisa
mengumpulkan uang dari aset itu senilai penilaian valuasi tadi, maka startup
memang harus menerima penilaian pasar.
Startup sebenarnya juga punya hak untuk menentukan nilainya
sendiri. Hal yang mungkin ditunjukkan untuk menyanggah nilai valuasi yang
dinilai terlalu rendah bisa menggunakan perbandingan dan proyeksi keuangan.
Perbandingan biasanya dilakukan dengan cara menilai kapabilitas dan laju
perkembangan startup yang bermain di sektor sama di pangsa pasar yang sama.
Bagaimana jangkauan produk, traksi pengguna hingga varian produk yang ada di
dalamnya akan menjadi bagian penting dalam komparasi tersebut.
Yang kedua adalah proyeksi keuangan. Tak mudah memang melakukan
memastikan angkanya, namun tren dan traksi pengguna yang ada dari waktu
sebelumnya seharusnya dapat dijadikan acuan, terlebih untuk produk digital,
maka proyeksi tersebut akan lebih mudah dianalisis juga didasarkan dengan upaya
pemasaran yang akan dibubuhkan.
Cara yang paling mudah untuk menunjukkan valuasi tak lain adalah
dengan menunjukkan profit bisnis. Menunjukkan kepada semua orang bahwa bisnis
yang dijalankan mampu memberikan keuntungan yang fantastis. Ini pun menjadi
tantangan untuk startup, karena rata-rata di fase awal fokus bisnis memang akan
condong kepada akuisisi pengguna dan perluasan pangsa pasar. Untuk itu biasanya
akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada berapa tahun yang
diperlukan sehingga bisnis bisa menguntungkan? Membandingkan berapa banyak
perusahaan sejenis dan perbandingannya dalam mencapai profit?
Pada dasarnya penentuan valuasi startup memang menjadi sebuah
proses seni. Seperti pada sebuah lukisan, penilaian kadang didasarkan poin-poin
yang sulit dikalkulasikan secara matematis.
Mengapa bisa mencapai level unicorn?
Setelah mengenal tentang valuasi, umumnya orang akan berdiskusi
tentang unicorn, sebuah “gelar” yang diberikan kepada startup yang memiliki
valuasi lebih dari $1 miliar. Di Indonesia sendiri memang belum banyak startup
unicorn. Salah satu yang sering digadang-gadang adalah
Tokopedia, Traveloka, dan Go-Jek. Pada putaran pendanaan
terakhir, Go-Jek berhasil membekukan valuasi $1,3 miliar.
Lalu muncul pertanyaan, mengapa valuasi Go-Jek bisa mencapai
angka tersebut? Apa saja yang mempengaruhinya? Untuk menjelaskan tentang hal
tersebut, kami mencoba berdiskusi dengan CEO MDI Ventures Nicko Widjaja.
Nicko banyak menjelaskan tentang dinamika bisnis di pangsa pasar
on-demand dan persaingan di sektor itu sendiri. Spesifik tentang pembahasan
Go-Jek dan gelar unicorn-nya, Nicko juga menyampaikan bagaimana pandangan pasar
dari kaca mata investor sehingga memberikan kepercayaan meningkatkan valuasi Go-Jek
itu sendiri.
“Dengan Grab memperoleh pendanaan
Seri F $600 juta (di waktu yang hampir sama dengan pendanaan Go-Jek), Go-Jek
bersaing di pasar (on-demand lokal) yang belum jelas siapa
pemimpin pasarnya. Saat ini penilaian didorong oleh market value. Didi memiliki
valuasi $36 miliar, Uber $70 miliar, dan terakhir Uber Cina diakuisisi oleh
Didi.”
Ia melanjutkan bahwa pada saat yang sama semua venture capital
pendukung berinvestasi untuk mencari “killer” untuk pangsa pasar di wilayah
tersebut. Nilai unik Go-Jek sebagai masa depan bisnisnya adalah revolusi
layanan pembayaran dengan Go-Pay. Mereka tidak mematokkan diri sebagai pemain
di sektor transportasi, tapi sebagai sebuah platform yang memberikan berbagai
jasa layanan untuk kebutuhan sehari-hari melalui sistem on-demand.
“Menjadi investor di pasar berkembang di Asia Tenggara, berarti
bahwa kita berinvestasi dalam ekosistem dan infrastruktur. Go-Jek telah
memainkan peran penting dalam membangun ekosistem dan infrastruktur mereka
untuk [membudayakan] masyarakat melek digital,” ujar Nicko.
Nice article! In India startups, businesses and companies have spread their roots all across the country. Everyone wants to establish their startups by using their skills and intelligence. Checkout our list of Top 10 Unicorn Startups in India 2022.
BalasHapus